Selamat Datang di Laman Pusat Bahasa

Laman Pusat Bahasa disediakan oleh Pusat Bahasa Depdiknas untuk menyosialisasikan keberadaan dan kegiatan yang ada di Pusat Bahasa. Laman ini juga dilengkapi dengan Majalah Maya - Nawala - untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kemahiran kita dalam berbahasa Indonesia.

Media ini sengaja dikemas dalam format interaksi multiarah agar Anda dapat saling bertukar pikiran dengan sesama pengunjung laman, dapat menanyakan sesuatu kepada pakar, dan bahkan diharapkan juga dapat ikut memberi kritik dan saran untuk menangani masalah bahasa dan sastra di tanah air ini. Dengan cara itu, Anda diharapkan ikut berperan aktif dalam usaha pengembangan bahasa dan sastra di Indonesia.

Berita

02/08/2010 - 3:14pm

“Sastra dan Budaya Urban dalam Kajian Lintas Media” Latar Belakang
Sastra sebagai salah satu produk kebudayaan bukanlah sesuatu yang bersifat beku, statis dan kedap dari dinamika perkembangan zaman. Sastra diproduksi, dikonsumsi dan dimaknai dengan cara yang berbeda di era dan generasi yang berbeda. Dengan dinamis, sastra Indonesia kontemporer menjadi bagian dari lifestyle masyarakat urban perkotaan yang menjadi konsumen terbesar produk kebudayaan. Migrasi kebudayaan melalui urbanisme ke kota yang berlangsung secara massif pada abad ke-21 ini tidak hanya menandai mobilitas fisik tetapi juga sikap, gaya hidup dan pemikiran. Kota, sebagai arus pusat masyarakat urban menciptakan kebudayaan yang memiliki nuansa yang lebih terbuka dan cair meluruhkan sekat-sekat kebudayaan yang dianggap ’tinggi’ dan ’rendah’, ’kanon’ dan ’pop’, dsb.    
Dinamika kebudayaan urban -termasuk kehidupan sastra didalamnya- kini semakin mendapatkan tempat dan menciptakan habitus tersendiri di kalangan masyarakat urban perkotaan. Fenomena adaptasi novel-novel berlabel Islami menjadi film yang laris manis ditonton semua kalangan-mulai dari presiden hingga ibu-ibu kelompok pengajian adalah salah satu contohnya. Dalam hal ini, peran kapitalisme dan tekhnologi dalam sebuah industri massa tentu saja tidak dapat dapat diabaikan. Kapitalisme dengan cerdik membidik peluang, ruang dan identitas baru yang kemudian menciptakan komunitas baru.
Pada saat yang sama, globalisasi, liberalisasi ekonomi, politik dan budaya memudahkan akses pada tekhnologi dan media audio-visual. Dalam konteks Indonesia, runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998 dan pembubaran Departemen Penerangan pada tahun 2000 memungkinkan liberalisasi media yang merangsang terciptanya komunitas dan ruang-ruang mengungkapan karya sastra alternatif. Fenomena ini bukannya tanpa risiko. Adanya kecenderungan menciptakan karya instan yang hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi semata dan miskin estetika merupakan ekses yang tak terelakkan. 
Oleh karena itu, dibutuhkan kreatifitas dan pemikiran kita bersama untuk mendiskusikan peran sastra dalam masyarakat urban dalam lalu lintas perkembangan media. Dalam konteks kesusastraan, sejumlah pertanyaan yang dapat diangkat dalam kaitan dengan persoalan-persoalan di atas adalah antara lain: bagaimana sastra mempengaruhi  gaya hidup urban dan sebaliknya bagaimana dialektika kehidupan urban menentukan mati hidupnya sastra? bagaimana kontestasi dan negosiasi diantara keduanya? Apakah keduanya justru saling melengkapi dan secara kreatif menciptakan genre dan teori baru? Bagaimana sastra mencoba menawarkan solusi alternatif dari persoalan-persoalan masyarakat urban? Apakah simbiosis keduanya mampu menciptakan metode pengajaran sastra yang lebih menarik, kreatif dan inspirational?

Selengkapnya
02/05/2010 - 3:56pm

Prof. Alexander Oglobin dari Universitas Saint Petersburg, Rusia berceramah di depan mahasiswa, para peneliti, dan staf Pusat Bahasa pada hari Rabu, 3 Februari 2010 di Gedung Darma Lt.3 Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Selengkapnya
01/17/2010 - 11:58am

Pada hari Sabtu, 16 Jan 2010, Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) mengadakan diskusi dengan topik “UU 24/2009: Peluang Kerja untuk Penerjemah dan Juru Bahasa” di Pusat Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur. Diskusi tersebut dipandu oleh Kukuh Sanyoto (Wakil Ketua II HPI) sebagai moderator dan menghadirkan dua pembicara: Sugiyono Shinutama (Kabid Pengembangan Bahasa dan Sastra Pusat Bahasa) dan Junaiyah H. Matanggui (Konsultan dan Praktisi Bahasa Indonesia).Dalam acara yang dihadiri oleh lebih kurang 40 orang dan berlangsung antara pukul 10.00–12.30 tersebut, Sugiyono, sebagai orang yang terlibat langsung dalam proses penyusunan UU 24/2009, menjabarkan isi Undang-Undang 24/2009 yang berkaitan dengan bahasa. Sedangkan Junaiyah, sebagai ahli bahasa yang sering dilibatkan dalam pembahasan RUU,membahas beberapa kesalahan umum yang banyak ditemukan dalam naskah RUU.Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan atau disingkat BBLNLK disahkan pada tanggal 9 Juli 2009. Sesuai dengan namanya, salah satu topik yang diatur pada undang-undang (UU) ini adalah tentang bahasa negara.

Selengkapnya
01/16/2010 - 2:05pm

Pada Jumat, 15 Januari 2009 pukul 19.30—21.30 WIB diselenggarakan pemberian anugerah kepada pemenang Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009 di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki. Ketua Pengurus Harian DKJ 2006—2009, Marco Kusumawijaya pada sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Zen Hai, Nukila Amal, dan Ayu Utami sebagai anggota Komite Sastra DKJ 2006—2009 yang telah selesai masa tugasnya dan akan digantikan oleh Ahmadun Y. Herfanda, Martin Aleida, Diah Hadaning, dan Zen Hai yang akan segera dilantik oleh Gubernur DKI. Pada kesempatan tersebut Marco menginformasikan bahwa salah satu kegiatan Komite Sastra adalah melaksanakan Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009 dan Marco mengucapkan terima kasih kepada Dewan Juri: Jakob Sumardjo, Mudji Sutrisno, dan Nirwan Ahmad Arsuka yang telah bekerja professional dalam memilih naskah terbaik.

Selengkapnya
01/11/2010 - 11:35am

Penghargaan Akademi Jakarta 2009 diberikan kepada Putu Wijaya. Demikian keputusan Dewan Juri Penghargaan Akademi Jakarta 2009, yang terdiri atas Adi Kurdi, Ahmadun Yosi Herfanda, Dwiki Dharmawan, Franki Raden, Julianti Parani, N. Riantiarno dan Rizaldi Siagian, dalam rapatnya pada tangal 29 November 2009.

Selengkapnya
12/16/2009 - 11:31am

Pada tanggal 20—22 November 2009 telah diselenggarakan Pertemuan Penyair Nusantara III di Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tuan Rumah dari Malaysia, kolaborasi antara Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dengan Yayasan Persatuan Penulis Nasional (PENA) Malaysia. Sebagai ketua Delegasi Indonesia, Ahmadun Y. Herfanda memaknai pertemuan itu dengan kata “Ketika Kata Menjadi Ikatan Bersaudara”, beliau menyatakan bahwa boleh saja negara berselisih paham, tapi para penyair tetap ingin menjalin ikatan rasa bersaudara. Dan, begitulah tekad sekitar 100 penyair nusantara--Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, dan Filipina--yang berkumpul di Kuala Lumpur, 20-22 November 2009 lalu. Hal senada dengan itu juga diucapkan oleh  kata Shobier Purwanto, sekjen Komunitas Sastra Indonesia (KSI). ''Meskipun Indonesia dan Malaysia masih berselisih soal Ambalat dan tari pendet, kami, para penyair senusantara, harus tetap bersaudara,'' . Maka, Menara Kuala Lumpur, yang menjulang tinggi ke angkasa, pun bertaburan kata-kata indah yang mengekspresikan semangat untuk tetap bersaudara. Para penyair dari negara-negara serumpun tersebut membacakan sajak-sajak mereka dengan berbagai gaya dalam satu bingkai semangat mempersembahkan puisi untuk persaudaraan. ''Acara semacam ini penting untuk memperkuat hubungan budaya antarsastrawan nusantara,'' kata Baharuddin Zein, ketua Persatuan Penulis Nasional (PENA) Malaysia.

Selengkapnya
11/18/2009 - 10:45am

Sastrawan F Rahardi memperoleh penghargaan Anugerah Sastra Khatulistiwa tahun 2009 untuk kategori prosa terbaik lewat novelnya Lembata. Untuk kategori puisi, penghargaan ini diberikan kepada Sindu Putra atas karyanya Dongeng Anjing Api. Setiap penerima penghargaan memperoleh hadiah 100 juta rupiah.Penghargaan juga didapat Ria N Badaria dengan karya Fortunata untuk kategori penulis muda berbakat di bawah usia 30 tahun dengan hadiah 25 juta rupiah. Kemudian Hadiah Khusus Metropoli D’Asia Khatulistiwa jatuh kepada Sihar Ramses Simatupang dengan karya Bulan Lebam di Tepian Toba. Selain karyanya diterjemahkan dan diterbitkan di Italia, Sihar juga menerima hadiah 3.000 euro.

Selengkapnya
11/16/2009 - 11:50am

Setelah mengamati dan menilai 383 peserta Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan. Tim juri memutuskan dan menetapkan pemenang Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan Balai Bahasa Bandung Tahun 2009 sebagai berikut.

Selengkapnya